TUGAS III
ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA YOGYAKARTA
Bila kita membahas ini, akan terpusat pada
adat istiadat dan budaya yang ada di Kraton Yogyakarta yang merupakan pusat
budaya Yogyakarta khususnya.
Pada perjanjian Giyanti tahun 1755 yang
secara politis terbelahnya kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan
Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, juga menyangkut perjanjian budaya antara
Sunan Paku Buwono III dengan Sultan Hamengku Buwono I, yaitu antara lain bahwa
Kasultanan Yogyakarta tetap melestarikan budaya Mataram Islam , sedangkan
Surakarta mengadakan modifikasi meski masih berpijak pada budaya Mataram Islam.
Adapun yang akan kita bahas di sini adalah tentang upacara adat dan budaya di
Kraton Yogyakarta, yang terdiri atas:
1. Upacara Inisiasi, yang terdiri atas:
A. Parasan
Yaitu upacara
potong rambut yang pertama kali bagi seorang putera sultan. Dilakukan saat bayi
berumur selapan (35) hari.
Perlengkapannya:
-sajen-sajen
-air dengan bunga setaman
-handuk
-sabun
-alat cukur
-pakaian bayi.
Jalannya upacara :
Setelah semua perlengkapan siap di tempat upacara, Sri Sultan hadir
dan duduk di atas kasur (Palenggahan Dalem), kemudian memerintahkan kepada kyai
pengulu untuk memulai do’a bagi putera sultan yang akan di cukur. Setelah do’a
selesai, segera Sri Sultan mencukur rambut puteranya, dilanjutkan oleh ibunya
hingga selesai. Rambut selanjutnya ditanam, setelah itu, bayi segera dimandikan
dengan air bunga dan diberi pakaian yang bagus, dan upacarapun selesai.
B. Tedhak Siten
Yaitu upacara
menginjak tanah yang pertama kali. Dilakukan bila anak berusia 7,8, atau 9
bulan bila anak sudah mulai berdiri.
Perlengkapannya:
-sajen-sajen
-air bunga setaman
-handuk
-sabun
-alat mandi
-tangga (ondho) dari pohon tebu
-alat-alat tulis
-uang
-mainan
yang semua ini diletakkan di dalam kurungan (sangkar) yang khusus
dan dihias dengan bunga.
Jalannya upacara :
Setelah Sri Sultan hadir, segera upacara di mulai dari do’a kyai
pengulu. Selesai do’a, anak beserta emban (Inang Pengasuh) masuk dalam
kurungan. Anak dibimbing untuk memilih benda-benda yang ada di dalam kurungan.
Bila anak memilih uang, ia dianggap kelak akan menjadi orang kaya. Kemudian
sianak dibimbing untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Selanjutnya si
anak di mandikan dengan air bunga. Setelah selesai, ibu dari si anak menyebar
udhik-udhik, yaitu berupa uang logam dan beras kuning.
Terkadang upacara ini dilanjutkan dengan upacara Panggangan, yaitu
anak menarik pisang saja dengan jumlah lirang genap bertongkatkan ayam
(ingkung) yang disunduk sebagai teken saat berjalan yang pertama.
C. Supitan
Yaitu upacara sunatan
Perlengkapannya:
-krobongan (ruang berbentuk segi empat ditutup dengan kain sutra
putih yang didalamnya ada sebuah kursi dan sajen-sajen).
Pakaian:
-kepala dengan songkok (bagi putera permaisuri) atau puthut, baju
bludiran tanpa lengan, kamus dan timang, kain pradan.
Jalannya upacara :
Setelah segalanya siap, Sri Sultan memerintahkan kepada Narpa
Cundhaka (ajudan) untuk memanggil putera yang akan disunat. Dengan dibimbing
oleh seorang Pangeran dan beberapa orang pembawa alat perlengkapan yaitu kebut,
ode kollonye, sapu tangan, minum dan cengkal perak, ia langsung masuk kedalam
krobongan untuk disunat. Namun sebelumnya ia di do’akan terlebih dahulu. Begitu
disunat, dihormati dengan bunyi gamelan Kodhok Ngorek. Setelah selesai ia
langsung caos bekti (sungkem) kepada Sri Sultan. Setelah sungkem ia kembali ke
Kasatriyan untuk beristirahat. Dan upacara selesai.
D. Tetesan
Yaitu upacara
sunatan bagi perempuan. Dilaksanakan setelah menempuh usia 8 tahun.
Perlengkapannya:
-2 buah krobongan
-sajen-sajen
-perlengkapan mandi dan pakaian kebesaran.
Jalannya upacara :
Setelah segala perlengkapan siap, Sri Sultan hadir dan memerintahkan
kyai pengulu untuk mendo’akan puteri yang akan disunat. Usai berdo’a, puteri
dibopong oleh seorang emban masuk dalam krobongan dan di sunat oleh seorang
bidan. Setelah selesai lalu ia dimandikan di krobongan yang lain dengan air
bunga serta dirias dengan busana berkain sabuk wala pradan. Selanjutnya ia caos
bekti (sungkem) kepada Sri Sultan.
E. Tarapan
Yaitu upacara yang diadakan saat puteri menstruasi pertama.
Perlengkapannya:
-krobongan
-sajen-sajen
-perlengkapan mandi, dan busana.
Jalannya upacara :
Setelah semua siap, Sri Sultan Hadir dan menyuruh kyai pengulu untuk
berdo’a. Puteri dimandikan dalam krobongan dengan air bunga. Setelah selesai ia
dirias dengan menggunakan pakaian kebesaran berupa pinjungan dengan kain batik
pradan. Selanjutnya ia sungkem kepada Sri Sultan, dan upacarapun selesai.
F. Perkawinan
Upacara yang berhubungan dengan perkawinan dilakukan selama beberapa
hari, dimulai dengan :
-
Upacara Nyanti: calon menantu
Sri Sultan masuk ke Kraton untuk di sangker (karantina). Bagi pria menginap di
Dalem Kasatriyan dan wanita di Emper Bangsal Prabeyaksa.
-
Hari berikutnya diadakan
Upacara Siraman: memandikan calon pengantin. Bagi pria bertempat di Gedhong
Pompa Dalem Kasatriyan dan wanita bertempat di kamar mandi Dalem Sekar
Gedhatonan.
-
Malam harinya di adakan Upacara
Midadareni. Pada malam ini bagi calon mempelai wanita di adakan Upacara
Tantingan, yaitu menanyakan kepada calon mempelai wanita apakah sudah siap
melaksanakan Upacara Pernikahan dengan calon suaminya. Bagi puteri Sri Sultan
yang melakukan penantingan adalah Sri Sultan sendiri. Sedangkan bagi calon
mantu Sri Sultan yang melakukan adalah orang tuanya sendiri.
-
Pagi harinya diadakan Upacara
Akad Nikah di Masjid Panepen.
-
Siang harinya diadakan Upacara
Panggih yang berlangsung di Tratag Bangsal Kencana dengan pakaian kebesaran
pengantin corak basahan. Selesai upacara ini diadakan Upacara Pondhongan (Bila
menantu Sultan itu pria).
-
Sore harinya diadakan Upacara
Kirab mengelilingi benteng.
-
Malam harinya diadakan Upacara
Resepsi.
-
Pagi harinya diadakan Upacara
Pamitan: yaitu kedua pengantin pamit kepada Sri Sultan Untuk pulang ke rumah
pengantin pria, di luar Kraton.
2. Siraman Pusaka
Yaitu Upacara
membersihkan segala bentuk pusaka yang menjadi milik Kraton. Diadakan setiap
bulan Suro pada hari Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon dari pagi hingga siang
hari. Biasanya dilakukan selama dua hari. Adapun bentuk pusaka yang dibersihkan
antara lain: tombak, keris, pedang, kereta, ampilan (banyak dhalang
sawunggaling), dan lain-lain.
Pusaka yang dianggap paling penting yaitu:
-tombak K.K. Ageng Plered
-keris K.K. Ageng Sengkelat
-kereta K. Nyai Jimat. Khusus Sri Sultan membersihkan K.K. Ageng
Plered dan Kyai Ageng Sengkelat, setelah itu selesai baru pusaka yang lain
dibersihkan oleh para Pangeran, Wayah Dalem dan Bupati.
3. Ngabekten
Yaitu Upacara
Sungkem dari para kerabat Kraton Yogyakarta. Upacara ini diadakan setiap bulan
syawal bersamaan dengan perayaan Idul Fitri. Upacara ini dilaksnakan selama dua
hari. Sri Sultan menerima permohonan ma’af dari para kerabat Kraton yakni para
Bupati, Pangeran, Tentana Dalem (wayah, buyut, dan canggah) kaji, dan wedana.
Upacara ini dilaksanakan di Bangsal Kencana dan di Emper Bangsal Prabayeksa.
Untuk para pangeran, bupati, pengulu dan kaji serta wedana dilaksanakan di
Bangsal Prabayeksa Kencana. Untuk para sentana dalem pria di Emper Bangsal
Prabeyaksa. Untuk sentana dalem perempuan di Tratag Bangsal Prabeyaksa.
4. Sekaten
Perayaan
sekaten diadakan pada bulan Maulud atau bulan Robiul Awal, dalam rangka
memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW, dilangsungkan selama 6 hari
berturut-turut, dimulai tanggal 6 s.d. 12 bulan Maulud. Dalam perayaan sekaten
ini dimainkan dua perangkat gamelan pusaka yang dikenal dengan nama K.K.
Gunturmadu dan K.K. Nagawilaga atau juga disebut K.K. Sekati.
Sementara itu di alun-alun utara diadakan keramaian dengan berbagai
pertunjukkan hiburan dan pameran..
Pertama-tama gamelan sekaten dibunyikan di Bangsal Ponconiti,
kira-kira jam 00.00 WIB kedua gamelan diusung ke Masjid Besar sebelah barat
alun-alun dan diletakkan di Bangsal Pagengan sebelah utara dan selatan. Dan
selanjutnya gamelan tersebut ditabuh setiap hari kecuali hari jum’at.
Pada tanggal 12 Rabiul Awal, Sri Sultan hadir di Masjid Besar
langsung menuju ke tempat gamelan dan menyebar udhik-udhik kearah gamelan dan
masyarakat yang hadir di situ. Kemudian Sri Sultan masuk ke Masjid Besar untuk
mendengarkan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh K. Pengulu. Tepat
pada pukul 00.00 Sri Sultan kembali ke Kraton. Sepulangnya beliau, gamelan
sekaten juga dikembalikan ke dalam Kraton.
Pada pagi harinya diadakan Upacara Grebeg. Pada upacara ini
dikeluarkan Gunungan dari Keraton yang di bawa ke Masjid Besar dan ke
Pakualaman. Gunungan ini terdiri dari Gunungan Jantan, Betina, Darat, Pawuhan,
Gepak, dan Kutuk. Pada grebeg Maulud tahun Dal, semua gunungan itu dikeluarkan.
5. Labuhan
Upacara ini diadakan setiap peringatan Jumenengan Dalem ke Parangkusumo.
6. Busana
Di dalam Keraton Yogyakarta berlaku suatu peraturan secara turun
temurun apabila mereka masuk Kraton, yaitu:

Bagi Perempuan
Berkain wiron, berangkin (kemben) yang dikenakan dengan cara
”ubet-ubet”, gelung tekuk, tanpa baju dan tanpa alas kaki.

Bagi Laki-laki
Berblangkon, baju pranakan, kain batik dengan cara wiron engkol,
berkeris (Bagi yang berpangkat bekel ke atas), dan tanpa alas kaki.
Pakaian tersebut di atas digunakan sehari-hari. Bila ada acara,
mempunyai aturan tersendiri, berlaku bagi kerabat keraton, dan tidak berlaku
bagi wisatawan.
7. Bahasa
Di dalam Kraton
Yogyakarta bahasa sehari-hari yang digunakan disebut bahasa bagongan atau
bahasa kedhatonan. Terdiri dari 11 (sebelas) kata, yaitu:
- Henggeh artinya inggih atau iya.
- Mboya artinya mboten atau tidak.
- Menira artinya kula atau saya.
- Pekenira artinya panjenengan atau kamu.
- Punapi artinya punapa atau apa.
- Puniki artinya punika atau ini.
- Puniku artinya punika atau itu.
- Wenten artinya wonten atau ada.
- Nedha artinya mangga atau mari.
- Besaos artinya kemawon atau hanya.
- Seyos artinya sanes atau lain.
Bahasa ini mulai berlaku sejak pemerintahan Sultan Agung
Hanyokrokusumo yang memerintah Kerajaan Mataram tahun 1612 -1645, dan
dilanjutkan Sultan Hamengku Buwono I yang memerintahkan Kraton Yogyakarta tahun
1755. Bahasa ini berlaku bagi kerabat kraton bila di dalam Kraton. Mereka
berbahasa Krama Inggil khusus hanya kepada Sultan saja, dan Sultan berbahasa
Ngoko pada semua kerabat, kecuali pada saudara Sultan yang lebih tua digunakan
bahasa Krama Inggil.
8. Tata Krama
Di dalam Kraton
terdapat suatu tata cara yang khusus pula. Sembah hanya diberikan kepada Sri
Sultan saja. Bila kita hendak melaksanakan suatu tugas selalu di dahului dengan
sembah dulu.begitu pula apabila kita dari duduk hendak berdiri.
Di dalam keraton semua kerabat Kraton dianggap sama, terbukti dari
bahasa yang digunakan sehari-hari yakni bahasa bagongan. Sehingga tidak ada
perbedaan antara yang berpangkat tinggi ataupun rendah, serta abdi dalem dan
pangeran.
Di dalam Kraton terbagi atas dua bagian yaitu bagi perempuan di
Kaputren dan bagi laki-laki di Ksatriyan. Batas ini diaktualisasikan dengan
adanya Regol Manikantaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar