TUGAS I
Papua negeri yang elok di timur
indonesia, papua di tinggali banyak suku, dan setiap suku di papua mempunyai
adat istiadat yang berbeda.
kebudayaan papua masih kebudayaan murni karena dalam kesehariannya masih menggunakan peralatan dari batu dan masih bercocok tanam secara tradisional dan berpindah pindah.
selain adat istiadat tarian papua pun banyak ragam dan macamnya semuanya mencerminkan suku yang ada di papua, umumnya tarian papua sangat dinamis dan mencerminkan kegembiraan.
pakain adatnya pun sangat eksotis dengan hiasan di kepala yang mencerminkan budaya papua.
bukan hanya budayanya papua juga menyimpan wisata yang luar biasa dari salju abadinya di pegunungan jaya wijaya sampai pantai pantainya yang indah dan masih asli dan alami. jadi kalau ke indonesia jangan lupa berkunjung juga ke papua tanah yang elak bagaikan surga , tanah yang terberkati.
berikut beberapa foto buday papaua dan ke indahan papua:
kebudayaan papua masih kebudayaan murni karena dalam kesehariannya masih menggunakan peralatan dari batu dan masih bercocok tanam secara tradisional dan berpindah pindah.
selain adat istiadat tarian papua pun banyak ragam dan macamnya semuanya mencerminkan suku yang ada di papua, umumnya tarian papua sangat dinamis dan mencerminkan kegembiraan.
pakain adatnya pun sangat eksotis dengan hiasan di kepala yang mencerminkan budaya papua.
bukan hanya budayanya papua juga menyimpan wisata yang luar biasa dari salju abadinya di pegunungan jaya wijaya sampai pantai pantainya yang indah dan masih asli dan alami. jadi kalau ke indonesia jangan lupa berkunjung juga ke papua tanah yang elak bagaikan surga , tanah yang terberkati.
berikut beberapa foto buday papaua dan ke indahan papua:

JENIS-JENIS TARIAN ADAT PAPUA
Tari Kreasi Balada Cenderawasih
Balada
burung cenderawasih yang mana dikisahkan oleh Drs. Jhon Modouw tentang kepunahan burung cenderawasih lalu
digarap menjadi sebuah tari yang disebut tari balada cenderawasih. namun sayang
kurang adanya tanggapan dari pemerintah dan dinas terkait untuk bisa memahami
niat baik dari para seniman dan budayawan yang turut prihatin akan habitat
burung cenderawasih yang semakin lama semakin punah…. kita tahu dari sekian banyaknya jenis
cenderawasih cuma saat ini hanya beberapa saja yang tersisa. untuk itu para
seniman membuat cerita kisah hidup dari burung cenderawasih dalam bentuk tari
dan cerita agar kita semua dapat menyadari bahwa sebuh titipan yang terindah
dari yang Kuasa mulai hilang dari bumi papua……
tapi sekarang saya mau ajak kitorang semua pecinta seni dan budaya… mari
sama-sama berkarya dalam kontes memelihara dan menjaga habitat ini dalam lagu
dan tari….
YOSPAN (YOSIM PANCAR)
Yosim Pancar
atau biasa disingkat Yospan adalah tari pergaulan/persahabatan para muda-mudi.
Yospan merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan
Pancar.
Yosim adalah
suatu tarian tua mirip poloneis dari dansa Barat dan berasal dari Sarmi, suatu
kabupaten di pesisir utara Papua, dekat Sungai Mamberamo, namun ada juga yang
mengatakan bahwa Yosim berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen).
Sedangkan Pancar adalah suatu tarian yang berkembang di Biak Numfor dan
Manokwari awal 1960-an semasa zaman Belanda di Papua, meniru pada awal sejarah
kelahirannya, gerakan-gerakan “akrobatik” di udara - seperti gerakan jatuh
jungkir-balik dari langit, mirip daun kering yang jatuh tertiup angin - dari
pesawat tempur jet Neptune buatan Amerika Serikat yang dipakai Angkatan Udara
Belanda di Irian Barat. Awal 1960-an, konflik Belanda-Indonesia seputar status
kedaulatan atas Irian Barat masih berlangsung. Karena pesawat tempur ini
digerakkan oleh pancaran gas (jet), maka tarian yang meniru gerakan
akrobatiknya mula-mula disebut Pancar Gas, kemudian disingkat menjadi Pancar.
Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkaya gerakannya dari
sumber-sumber lain, termasuk dari alam. Tari Yosim Pancar memiliki dua regu
pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang dengan
gerakan dasar yang penuh semangat, dinamik dan menarik. Beberapa jenis
gerakannya yang terkenal seperti Pancar gas, Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka
dan lain-lain. Keunikan dari tarian ini adalah pakaian, aksesoris, dan alat
musiknya. Warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni
tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun ciri khas Papua untuk aksesoris
hampir sama. Alat-alat musik yang dipakai untuk mengiringi tarian Yospan
seperti Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Ukulele, Tifa
dan Stem Bass biasanya dibuat sendiri. Seorang yang sudah mahir bermain Stem
Bass terkadang dapat bermain bukan lagi menggunakan jari atau telapak tangan
untuk menekan not tapi menggunakan telapak kaki pada senar nilon. Irama dan
lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian.
Yospan cukup populer dan sering diperagakan pada setiap event, acara adat,
kegiatan penyambutan dan festival seni budaya. Yospan juga biasa ditampilkan di
Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana. Hampir
setiap kampung di Papua memiliki grup seni tari yang terus dikembangkan.
Kebudayaan
di Papua
1. Budaya Tari-Tarian
Masyarakat
pantai memiliki berbagai macam budaya tari-tarian yang biasa mereka sebut
dengan Yosim Pancar (YOSPAN), yang didalamnya terdapat berbagai macam bentuk
gerak seperti: (tari Gale-gale, tari Balada, tari Cendrawasih, tari Pacul Tiga,
tari Seka, Tari Sajojo). Tarian yang biasa dibawakan oleh masyarakat pantai
maupun masyarakat pegunungan pada intinya dimainkan atau diperankan dalam
berbagai kesmpatan yang sama seperti: dalam penyambutan tamu terhormat, dalam
penyambutan para turis asing dan yang paling sering dimainkan adalah dalam
upacara adat. khususnya tarian panah biasanya dimainkan atau dibawakan oleh
masyarakat pegunungan dalam acara pesta bakar batu atau yang biasa disebut
dengan barapen oleh masyarakat pantai. tarian ini dibawakan oleh para pemuda
yang gagah perkasa dan berani.
dengan budaya tarian Yospan maupun budaya
tarian Panah yang unik, kaya dan indah tersebut para orangtua sejak dahulu
berharap budaya yang telah mereka wariskan kepada generasi berikut tidak
luntur, tidak tenggelam dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zaman
yang kian hari kian bertambah maju. para pendahulu yaitu para orangtua berharap
juga budaya tarian-tarian yang telah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang
kesulitan, kesusahan dan keresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi
berikutnya. mereka juga berharap dengan tidak adanya budaya Papua yang kaya
tersebut semakin maju, semakin dikenal baik oleh orang dikalangan dalam negeri
sendiri maupun dikenal dikalangan luar negeri dan juga semakin berkembang
kearah yang lebih baik yang intinya dapat tetap mengangkat derajat, martabat,
dan harkat orang Papua.
2. Budaya Perkawinan
Perkawinan
merupakan kebutuhan yang paling mendesak bagi semua orang. dengan demikian
masyarakat Papua baik yang di daerah pantai maupun daerah pegunungan menetapkan
peraturan itu dalam peraturan adat yang intinya agar masyarakat tidak melanggar
dan tidak terjadi berbagai keributan yang tidak diinginkan. dalam pertukaran
perkawinan yang di tetapkan orangtua dari pihak laki-laki berhak membayar mas
kawin seebagai tanda pembelian terhadap perempuan atau wanita tersebut. adapun
untuk masyarakat pantai berbagai macam mas kawin yang harus dibayar seperti:
membayar piring gantung atau piring belah, gelang, kain timur (khusus untuk
orang di daerah Selatan Papua) dan masih banyak lagi. berbeda dengan permintaan
yang diminta oleh masyarakat pegunungan diantaranya seperti: kulit bia (sejenis
uang yang telah beredar di masyarakat pegunugan sejak beberapa abad lalu), babi
peliharaan, dan lain sebagainya. dalam pembayaran mas kawin akan terjadi kata
sepakat apabila orangtua dari pihak laki-laki memenuhi seluruh permintaan yang
diminta oleh orangtua daripada pihak perempuan.
3. ALAT MUSIK TRADISONAL
3. ALAT MUSIK TRADISONAL
Tifa
Salah
satu alat musik yang paling terkenal dari kawasan Indonesia Timur adalah Tifa. Secara khusus dapat dikatakan bahwa Tifa
adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, bentuknya mirip gendang
dan cara memainkannya adalah dengan dipukul.
Bahannya terbuat dari sebatang kayu yang
isinya dikosongkan dan pada salah satu sisi ujungnya ditutup menggunakan kulit
rusa yang telah dikeringkan agar dapat menghasilkan suara yang bagus dan indah.
Biasanya Tifa diperindah dengan berbagai model ukiran sesuai dengan ciri khas
setiap suku di maluku dan papua.
Kapan Tifa dimainkan. Disamping sebagai
pelengkap dari permainan istrumen musik tradisional, Tifa juga selalu dimainkan
untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional
asmat,dan Tarian gatsi. Tarian tersebut biasanya digunakan pada acara-acara
tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.

4. Pakaian Adat
Pakaian adat pria dan wanita di Papua secara
fisik mungkin anda akan berkesimpulan bahwa pakaian tersebut hampir sama
bentuknya. Mereka memakai baju dan penutup badan bagian bawah dengan model yang
sama. Mereka juga sama-sama memakai hiasan-hiasan yang sama, seperti hiasan
kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari
manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Bentuk pakaian yang terlukis
di sini merupakan ciptaan baru. Biasannya tak lupa dengan tombak/panah dan
perisai yang dipegang mempelai laki-laki menambah kesan adat Papua.
Mengenal
Budaya Papua
Keadaan Sosial Budaya
Sudah sejak
lama ujung barat laut Irian dan seluruh pantai utara penduduknya dipengaruhi
oleh penduduk dari kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, Tidore, Seram dan Key),
maka adalah tidak mengherankan apabila suku-suku bangsa disepanjang pesisir
pantai (Fak-Fak, Sorong, Manokwari dan Teluk Cenderawasih) lebih pantas
digolongkan sebagai Ras Melanesia dari pada Ras Papua. Zending atau misi
kristen protestan dari Jerman (Ottow & Geissler) tiba di pulau Mansinam
Manokwari 5 Februari 1855 untuk selanjutnya menyebarkan ajaran agama
disepanjang pesisir pantai utara Irian. Pada tanggal 5 Februari 1935, tercatat
lebih dari 50.000 orang menganut agama kristen protestan. Kemudian pada tahun
1898 pemerintah Hindia Belanda membuka Pos Pemerintahan pertama di Fak-Fak dan
Manokwari dan dilanjutkan dengan membuka pos pemerintah di Merauke pada tahun
1902. Dari Merauke aktivitas keagamaan misi katholik dimulai dan pada umumnya
disepanjang pantai selatan Irian. Pada tahun 1933 tercatat sebanyak 7.100 orang
pemeluk agama katholik. Pendidikan dasar sebagian besar diselenggarakan oleh
kedua misi keagamaan tersebut, dimana guru sekolah dan guru agama umumnya
berasal dari Indonesia Timur (Ambon, Ternate, Tidore, Seram, Key, Manado,
Sanger-Talaud, dan Timor), dimana pelajaran diberikan dalam bahasa Melayu.
Pembagian kedua kelompok agama tersebut kelihatannya identik dengan keadaan di
Negeri Belanda dimana Kristen Protestan di Utara dan Kristen Katholik di
Selatan.
Pendidikan
mendapat jatah yang cukup besar dalam anggaran pemerintah Belanda, pada
tahun-tahun terakhir masa penjajahan, anggaran pendidikan ini mencapai 11% dari
seluruh pengeluaran tahun 1961. Akan tetapi pendidikan tidak disesuaikan dengan
kebutuhan tenaga kerja disektor perekonomian modern, dan yang lebih diutamakan
adalah nilai-nilai Belanda dan agama Kristen. Pada akhir tahun 1961 rencana
pendidikan diarahkan kepada usaha peningkatan keterampilan, tetapi lebih
diutamakan pendidikan untuk kemajuan rohani dan kemasyarakatan. Walaupun bahasa
"Melayu" dijadikan sebagai bahasa "Franca" (Lingua Franca),
bahasa Belanda tetap diajarkan sebagai bahasa wajib mulai dari sekolah dasar,
bahasa-bahasa Inggris, Jerman dan Perancis merupakan bahasa kedua yang mulai
diajarkan di sekolah lanjutan.
Pada tahun
1950-an pendidikan dasar terus dilakukan oleh kedua misi keagamaan tersebut.
Tercatat bahwa pada tahun 1961 terdapat 496 sekolah misi tanpa subsidi dengan
kurang lebih 20.000 murid. Sekolah Dasar yang bersubsidi sebanyak 776 dengan
jumlah murid pada tahun 1961 sebanyak kurang lebih 45.000 murid, dan seluruhnya
ditangani oleh misi, dan pelajaran agama merupakan mata pelajaran wajib dalam
hal ini. Pada tahun 1961 tercatat 1.000 murid belajar di sekolah menengah
pertama, 95 orang Irian Belajar diluar negeri yaitu Belanda, Port Moresby, dan
Australia dimana ada yang masuk Perguruan Tinggi serta ada yang masuk Sekolah
Pertanian maupun Sekolah Perawat Kesehatan (misalnya pada Nederland Nasional
Institut for Tropica Agriculture dan Papua Medical College di Port Moresby).
Walaupun Belanda harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk
menbangun Irian Barat, namun hubungan antara kota dan desa atau kampung tetap
terbatas. Hubungan laut dan luar negeri dilakukan oleh perusahaan Koninklijk
Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menghubungkan kota-kota Hollandia, Biak,
Manokwari, Sorong, Fak-Fak, dan Merauke, Singapura, Negeri Belanda. Selain itu
ada kapal-kapal kecil milik pemerintah untuk keperluan tugas pemerintahan.
Belanda juga membuka 17 kantor POS dan telekomunikasi yang melayani antar kota.
Terdapat sebuah telepon radio yang dapat menghubungi Hollandia-Amsterdam
melalui Biak, juga ditiap kota terdapat telepon. Terdapat perusahaan
penerbangan Nederland Nieuw Guinea Luchvaart Maatschappij (NNGLM) yang
menyelenggarakan penerbangan-penerbangan secara teratur antara Hollandia, Biak,
Manokwari, Sorong, Merauke, dan Jayawijaya dengan pesawat DC-3, kemudian
disusul oleh perusahaan penerbangan Kroonduif dan Koniklijk Luchvaart
Maatschappij (KLM) untuk penerbangan luar negeri dari Biak. Sudah sejak tahun
1950 lapangan terbang Biak menjadi lapangan Internasional. Selain penerbangan
tersebut, masih terdapat juga penerbangan yang diselenggarakan oleh misi
protestan yang bernama Mission Aviation Fellowship (MAF) dan penerbangan yang diselenggarakan
oleh misi Katholik yang bernama Associated Mission Aviation (AMA) yang melayani
penerbangan ke pos-pos penginjilan di daerah pedalaman. Jalan-jalan terdapat
disekitar kota besar yaitu di Hollandia 140 Km, Biak 135 Km, Manokwari 105 Km,
Sorong 120 Km, Fak-Fak 5 Km, dan Merauke 70 Km.
Mengenai
kebudayaan penduduk atau kultur masyarakat di Irian Barat dapat dikatakan
beraneka ragam, beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup tinggi dan
mengagumkan yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang kini lebih dikenal
dengan suku "ASMAT" kelompok suku ini terkenal karena memiliki
kehebatan dari segi ukir dan tari. Budaya penduduk Irian yang beraneka ragam
itu dapat ditandai oleh jumlah bahasa lokal khususnya di Irian Barat.
Berdasarkan hasil penelitian dari suami-isteri Barr dari Summer Institute of
Linguistics (SIL) pada tahun 1978 ada 224 bahasa lokal di Irian Barat, dimana
jumlah itu akan terus meningkat mengingat penelitian ini masih terus dilakukan.
Bahasa di Irian Barat digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan
diklasifikasikan dalam 31 kelompok bahasa yaitu:
Tobati, Kuime, Sewan, Kauwerawet, Pauwi, Ambai, Turu, Wondama, Roon,
Hatam, Arfak, Karon, Kapaur, Waoisiran, Mimika, Kapauku, Moni, Ingkipulu,
Pesechem, Teliformin, Awin, Mandobo, Auyu, Sohur, Boazi, Klader, Komoron, Jap,
Marind-Anim, Jenan, dan Serki. Jumlah pemakai bahasa tersebut diatas sangat
bervariasi mulai dari puluhan orang sampai puluhan ribu orang.
Secara tradisional, tipe pemukiman masyarakat Irian Barat dapat
dibagi kedalam 4 kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial
ekonomi dan budaya tersendiri.
Penduduk pesisir pantai:
Penduduk ini
mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang
disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi dengan kota dan
masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.
Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah:
Mereka termasuk
peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu dihuta disekeliling
lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang
mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang
aliran sungai. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.
Penduduk pegunungan yang mendiami lembah:
Mereka bercocok
tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka berburu dan
memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok, dengan
penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Adat
istiadat dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi" sebagai
simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan
suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang
Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat
curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).
Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung:
Melihat kepada
tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung, memberi kesan bahwa
mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap jangkauan musuh dimana
sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk hidup yang mendekati
pemukimannya. Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih
"KANIBAL" hingga kini, dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila
melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok
masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan
sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga.
Dalam berbagai
kebudayaan dari penduduk Irian ada suatu gerakan kebatinan yang dengan suatu
istilah populer sering disebut cargo cults. Ada suatu peristiwa gerakan cargo
yang paling tua di Irian Jaya pada tahun 1861 dan terjadi di Biak yang bernama
"KORERI". Peristiwa atau gerakan cargo terakhir itu pada tahun 1959
sampai tahun 1962 di Gakokebo-Enarotali (kabupaten Paniai) yang disebut "
WERE/WEGE" sebagaimana telah dikemukakan bahwa gerakan ini yang semula
bermotif politik.
Pada waktu
Belanda meniggalkan Irian Barat, posisi-posisi baik dibidang pemerintahan,
pembangunan (dinas-jawatan) baik sebagai pimpinan maupun pimpinan menengah
diserahterimakan kepada putra daerah (orang Papua/Irian Barat) sesuai dengan
kemampuan yang mereka miliki. Juga seluruh rumah dan harta termasuk gedung dan
tanah milik orang Belanda itu diserahkan kepada kenalan mereka orang Papua
(pembantu dan teman sekerja) untuk dimiliki, karena mereka tidak bisa
menjualnya dan juga tidak ada pembeli pada masa itu.
Belanda juga
meninggalkan ekses konflik antara suku-suku besar sebagai akibat dari aktivitas
politik yaitu pertentangan antara "Elite Pro-Papua" dan "Elite
Pro-Indonesia" yang ditandai dengan pertentangan antara "Suku Biak
lawan Suku Serui, Suku tanah Merah-Jayapura lawan Suku Serui", sekalipun
dalam hal ini tidak semua orang Biak itu pro-Papua, tidak semua orang Serui itu
pro-Indonesia dan tidak semua orang Tanah Merah-Jayapura itu pro-Papua dan
pro-Indonesia.
Berdasarkan
pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda dalam kemerdekaan tahun
1945, maka Belanda didalam menjajah Irian Barat sangat hati-hati sekali dalam
meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang, dan Belanda sengaja
memperlambat perkembangan di Irian Barat/Nieuw Guinea sesuai dengan
permintahaan dan kebutuhan orang-orang Irian Barat. Katakanlah bahwa ini suatu
bentuk "Etis-Politik Gaya Baru". Termasuk didalamnya usaha untuk
membentuk "Nasionalisme Papua". Cara Belanda yang demikian itu
menyebabkan orang-orang Irian Jaya tidak merasa bahwa mereka sedang dijajah
sebab mereka hidup dalam suatu keadaan perekonomian yang baik dan tidak
merasakan adanya penderitaan dan tekanan dari Belanda.
Papua
Papua ialah
sebuah daerah daftar kata indonesia ialah (Provinsi) di Indonesia yang terletak
di bahagian barat kepulauan New Guinea dan pulau-pulau di sekitarnya.
Papua
kadangkala dipanggil sebagai Papua Barat kerana Papua boleh dirujuk kepada
seluruh kepulauan New Guinea atau bahagian selatan negara jirannya, Papua New
Guinea. Papua Barat ialah sebutan yang lebih disukai oleh para nasionalis yang
ingin memisahkan Papua daripada Indonesia dan membentuk negara sendiri. Daerah
(Provinsi) ini dahulu dikenali dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga
1973, namanya kemudian ditukarkan menjadi Irian Jaya oleh Suharto, nama yang
tetap digunakan secara rasmi hingga tahun 2002. Nama daerah (provinsi) ini
diganti menjadi Papua sesuai dengan UU No 21/2001 Autonomi Khusus Papua. Pada
masa era penjajahannya, wilayah ini disebut New Guinea Belanda (Dutch New
Guinea).
Papua merupakan
daerah (provinsi) yang terletak di wilayah paling timur negara Republik
Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan. Daerahnya belum banyak
diterokai oleh aktiviti manusia dan Papua kaya dengan sumber alam yang
menjanjikan peluang untuk berniaga dan berkembang. Tanahnya yang luas dipenuhi
oleh hutan, laut dan pelbagai biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang sesuai
untuk pertanian. Dalam perut buminya juga menyimpan gas asli, minyak dan
pelbagai bahan galian yang hanya menunggu untuk diterokai.
Senarai kandungan:
1 Pemerintahan
2 Geografi
3 Iklim
4 Topografi
5 Sosial Budaya
6 Bahasa
7 Agama
8 Gunung di Papua Timur
1.Pemerintahan
daerah
(Provinsi) Papua beribu kota di Jayapura dan secara pentadbirannya terdiri
daripada : 9 Pemerintahan Kabupaten iaitu Kabupaten Jayapura, Jayawijaya,
Merauke, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Biak Numfor, Yapen Waropen dan Nabire. Dua
Pemerintahan Kota iaitu Kota Jayapura dan Kota Sorong, tiga Pemerintahan
Kabupaten Administratif iaitu Puncak Jaya, Paniai dan Mimika. Jumlah Kecamatan
di Papua adalah 173 kecamatan yang mencakupi 2.712 desa dan 91 kelurahan.
2. Geografi
Papua terletak
pada kedudukan 0° 19' - 10° 45' LS dan 130° 45' - 141° 48' BT, menempati
sesetengah bahagian barat dari Papua New Guinea yang merupakan pulau terbesar
kedua selepas Greenland. Secara fizikal, Papua merupakan daerah (provinsi)
terbesar di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari jumlah kesuluruhan tanah
seluruh Indonesia iaitu 421,981 km², membujur dari barat ke timur (Sorong -
Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 batu) dan dari utara ke selatan (Jayapura-
Merauke) sepanjang 736 km (456 batu). Selain daripada tanah yang luas, Papua juga
memiliki banyak pulau sepanjang pesisirannya. Di pesisiran utara terdapat Pulau
Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Pada bahagian barat ialah Pulau Salawati,
Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Pada pesisiran Selatan terdapat pula Pulau
Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bahagian timur
bersempadan dengan Papua New Guinea.
3. Iklim
Papua terletak
tepat di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun kerana daerahnya yang
bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia
lainnya. Di daerah pesisiran barat dan utara beriklim tropika lembap dengan
tadahan hujan rata-rata berjumlah diantara 1.500 - 7.500 mm pertahun. Tadahan
hujan tertinggi terjadi di pesisir pantai utara dan di pegunungan tengah,
sedangkan tadahan hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara
bervariasi sejajar dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan
ketinggian 100 m ( 900 kaki ), secara rata-rata suhu akan menurun 0.6°C.
4. Topografi
Keadaan
topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran
tinggi yang dipenuhi dengan hutan hujan tropika, padang rumput dan lembah. Pada
bahagian tengah pula terdapat rangkaian pergunungan tinggi sepanjang 650 km.
Salah satu bahagian daripada pegunungan tersebut adalah pergunungan Jayawijaya
yang terkenal kerana di sana terdapat tiga puncak tertinggi yang walaupun
terletak dalam garisan khatulistiwa namun selalu diselimuti oleh salji di
puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030 m (15.090 kaki), puncak Trikora 5,160
m (15,480 kaki) dan puncak Yamin 5,100 m (15.300 kaki). Sungai-sungai besar
beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul yang
bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai
Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan
Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan
penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi
kehidupan harian, sebagai nelayan mahupun sebagai sarana penghubung ke daerah
luar. Selain itu terdapat pula beberapa danau, diantaranya yang terkenal adalah
Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di
Kabupaten Nabire dan Paniai.
5. Sosial Budaya
Pada
daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan kelompok
etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeza. Dengan mengacu pada
perbezaan topografi dan adat istiadatnya maka secara amnya, penduduk Papua
dapat di bezakan menjadi 3 kelompok besar iaitu:
-Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah
diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap
ikan.
-Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa,
danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap
ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
-Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun
beternak secara sederhana.
Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang
menganut garis ayah atau patrilinea.
6. Bahasa
Di Papua ini
terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada.
Aneka pelbagai bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi
antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh sebab itu,
Bahasa Indonesia digunakan secara rasmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua
bahkan hingga ke pedalaman.
7. Agama
Keagamaan
merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di
Papua dan dalam hal ketuhanan, Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain.
Majoriti penduduk Papua beragama Kristian, namun demikian, seiring dengan
perkembangan kemudahan pengangkutan dari dan ke Papua maka jumlah orang yang
beragama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak mubaligh sama ada
orang asing mahupun rakyat Indonesia sendiri yang melakukan misi keagamaannya
di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka berperanan penting dalam membantu
masyarakat sama ada melalui sekolah-sekolah mubaligh, bantuan perubatan mahupun
secara langsung mendidik masyarakat pedalaman dalam bidang pertanian, mengajar
Bahasa Indonesia dan pengetahuan-pengetahuan amali yang lain - lainnya.
Mubaligh juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke
daerah-daerah pedalaman yang belum dibina oleh penerbangan biasa.
8. Gunung di Papua Timur:
-Piramid Carstensz
-Puncak Jaya Wijaya
-Puncak Sumantri Brodjonegoro
-Puncak Carstensz Timur
-Puncak Trikora







Tidak ada komentar:
Posting Komentar