Sejarah Sidoarjo
Pada tahun 1851 Sidoarjo masih bernama
Sidokare yang merupakan bagian dari daerah Kabupaten Surabaya. Saat itu
Sidokare dipimpin oleh seorang Patih yang bernama R.Ng.Djojohardjo dan dibantu
oleh seorang wedono bernama Bagus Ranuwirjo. Baru pada tanggal 31 Januari 1859
berdasarkan keputusan Hindia Belanda No. 9 /1859 Staatsblat No. 6 Kabupaten
Surabaya dipecah menjadi 2 , yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare
dipimpin oleh seorang Bupati.
Bupati pertama Sidokare adalah RT.NOTOPURO
( RTP. TJOKRONEGORO I ) yang merupakan putra Bupati Surabaya dan bertempat
tinggal di Pandean ( Sidoarjo Plasa Sekarang ). Pada masa pemerintahan beliau
inilah didirikan masjid di Pekauman ( Masjid ABROR ).
Berdasarkan keputusan pemerintah Hindia
Belanda No. 10 / 1859 tanggal 28 Mei 1859 Staatsblat No. 32 nama Kabupaten
Sidokare diganti dengan Kabupaten Sidoarjo. Tahun 1862 Bupati Tjokronegoro I
memindahkan rumah Kabupaten dari kampung Pandean ke kampung Pucang ( Wates
). Disini beliau mendirikan Masjid Jami’ ( Masjid AGUNG ) dan disebelah
barat masjid dijadikan Pesarean Pendem ( Asri ). Ketika beliau wafat tahun
1863, jasad beliau disemayamkan dipesarean tersebut.
Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada
Sekutu, didaerah-daerah mulai dibentuk badan atau perkumpulan yang bersifat
Nasional. Pada saat itu yang berkuasa didaerah Delta Berantas adalah Kaigun
(tentara laut Jepang). Badan - badan atau perkumpulan yang bersifat Nasional
mulai bibentuk dengan nama BKR dan PTKR. Pada permulaan Maret 1946 Belanda
kembali ke daerah kita. Pada waktu menduduki Gedangan (pusat pemerintahan di
kabupaten sidoarjo saat itu), Pemerintah memindahkan pusat pemerintahan
Kabupaten Sidoarjo ke Porong.
Tanggal 24 Desember 1946 Belanda menyerang Kota Sidoarjo. Pemerintah
Kabupaten Sidoarjo dipindahkan lagi yaitu kedaerah Jombang . Sesudah Negara
Jawa Timur dibentuk daerah Delta Berantas ini masuk daerah Negara Boneka
tersebut. Mulai saat itu Daerah Sidoarjo berada dibawah pemerintahan Recomba
yang berjalan hingga tahun 1949. Pada waktu itu Bupati Sidoarjo adalah:
1. K. Ng. Soebakti Poespanoto;
2. R. Suharto.
Tanggal 27 Desember 1949 Belanda
menyerahkan kembali Pemerintahan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada
waktu itu juga daerah Delta Brantas menjadi daerah Republik Indonesia.
Sesudah penyerahan kembali kedaulatan
kepada Pemerintah RI berdasarkan Undang-Undang Nomor 22/1948. R Suryadi
Kertosoeprojo diangkat menjadi Bupati/Kepala Daerah di Kabupaten Sidoarjo.
Kebudayaan-
Kebudayaan di Kabupaten Sidoarjo
1. Bahasa
Bahasa yang berkembang di
daerah Sidoarjo dikenal dengan sebutan Bahasa Arek. Bahasa Arek merupakan
bahasa keseharian warga Kota Surabaya dan kabupaten pecahan Kota Surabaya,
yaitu Sidoarjo, Mojokerto, Gresik.
2. Tradisi
a. Lelang Bandeng
Setiap tahun di
Kabupaten Sidoarjo tepatnya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
diadakan kegiatan lelang bandeng tradisional bertempat di alun-alun Sidoarjo.
Lelang bandeng tradisional diadakan dengan tujuan
selain menjunjung tinggi peringatan Maulid nabi Muhammad SAW juga
mempunyai maksud menjadikan cambuk untuk meningkatkan produksi ikan
bandeng dengan pengembangan motivasi dan promosi agar petani tambak lebih
meningkatkan kesejahteraannya.
Lelang bandeng adalah merupakan usaha dengan tujuan mulia,
karena hasil bersih uang seluruhnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial
dan keagamaan melalui yayasan amal bhakti Muslim Sidoarjo. Tradisi lelang bandeng selalu dibarengi dengan
kegiatan-kegiatan lainnya yaitu pasar murah, berbagai macam hiburan tanpa
dipungut biaya, antara lain Band, Orkes Melayu, Ludruk, Samroh dan lomba
MTQ tingkat kabupaten. Bandeng
yang dilelang dinamakan bandeng “KAWAKAN“ yang dipelihara khusus
antara 5 – 10 tahun dan mencapai berat 7 Kg sampai 10
Kg per ekor.
b. Nyadran
Di Jawa, pada bulan Ruwah ( kalender Jawa ) ada tradisi
yang dinamakan Ruwatan. Bentuk –bentuk Ruwatan ini dapat berupa bersih Desa
,Ruwah desa atau lainnya.
Di Sidoarjo tepatnya di Desa Balongdowo Kecamatan
Candi ada tradisi masyarakat yang dilakukan setiap bulan Ruwah pada saat
bulan purnama.
Tradisi tersebut dinamakan Nyadran, Nyadran ini merupakan
adat bagi para nelayan kupang desa Balongdowo sebagai ungkapan rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bentuk kegiatan Nyadran berupa pesta peragaan cara
mengambil kupang di tengah laut selat Madura.
Nyadran di Sidoarjo mempunyai ciri khas tersendiri.
Kegiatan Nyadran dilakukan oleh masyarakat Balongdowo yang mata pencaharian
sebagai nelayan kupang, pada siang harinya sangat disibukkan dengan kegiatan
persiapan pesta upacara meski puncak acaranya pada tengah malam.
Kegiatan ini dilakukan pada dini hari sekitar pukul 1
pagi. Orang- orang berkumpul untuk melakukan keliling. Perjalanan dimulai
dari Balongdowo Kec, Candi menempuh jarak 12 Km. Menuju dusun Kepetingan Ds.
Sawohan Kec. Buduran. Perjalanan ini melewati sungai desa Balongdowo, Klurak
kali pecabean, Kedung peluk dan Kepetingan ( Sawohan ).
Ketika iring-iringan perahu sampai di muara kali Pecabean
perahu yang ditumpangi anak balita membuang seekor ayam. Konon menurut
cerita dahulu ada orang yang mengikuti acara Nyadran dengan membawa
anak kecil dan anak kecil tersebut kesurupan. Oleh karena itu untuk menghindari
hal tersebut masyarakat Balongdowo percaya bahwa dengan membuang seekor ayam
yang masih hidup ke kali Pecabean maka anak kecil yang mengikuti nyadran
akan terhindar dari kesurupan/ malapetaka.
Sekitar pukul. 04.30 WIB. Peserta iring-iringan perahu
tiba di dusun Kepetingan Ds. Sawohan . Rombongan peserta nyadran langsung
menuju makam dewi Sekardadu untuk mengadakan makan bersama. Sambil
menunggu fajar tiba, peserta nyadran tersebut berziarah, bersedekah, dan berdoa
di makam tersebut agar berkah terus mengalir. Menurut cerita rakyat Balongdowo
Dewi sekardadu adalah putri dari Raja Blambangan yang bernama Minak
Sembuyu yang pada waktu meninggalnya dikelilingi “ ikan kepiting “ itulah
sebab mengapa dusun tersebut dinamakan Kepetingan. Tetapi orang-orang sering
menyebut Dusun Ketingan.
Setelah dari makam Dewi Sekardadu, sekitar pukul
07.00WIB. Perahu-perahu itu menuju selat Madura yang berjarak sekitar 3 Km.
Sekitar pukul 10.00 WIB. iring-iringan perahu tersebut mulai meninggalkan selat
Madura. Kemudian mereka kembali ke Ds Balongdowo. Sepanjang Perjalan pulang
ternyata banyak masyarakat berjajar di tepi sungai menyambut iring-iringan
perahu tiba. Mereka minta berkat/makanan yang dibawa oleh peserta nyadran
dengan harapan agar mendapat berkah.
Ada satu proses dari pesta nyadran ini yaitu “ Melarung
tumpeng “ Proses ini dilakukan di muara /Clangap ( pertemuan antara sungai
Balongdowo, sungai Candi, dan sungai Sidoarjo ). Proses ini diadakan bila ada
pesta Nyadran atau nelayan kupang yang mempunyai nadzar /kaul.
3. Kesenian
a. Wayang
Kulit
Jenis wayang kulit yang
ada di Sidoarjo sebagian besar adalah wayang kulit gaya Jawa Timuran (gaya
Wetanan) dan sebagian kecil gaya Kulonan. Hampir semua kecamatan memiliki
dalang wayang kulit Wetanan ini, diantaranya: Tarik, Balungbendo, Krian,
Prambon, Porong, Tulangan, Sukodono, Candi, Sidoarjo, Gedangan dan Waru.
Gaya Wetanan ini dapat
dibagi lagi dalam penggolongan pecantrikan, yaitu:
a. Ki Soewoto Ghozali (alm) dari Reno Kenongo, Porong
b. Ki Soetomo (alm), dari Waru
c. Ki Suleman (alm), Karangbangkal, Gempol
Dari segi musik, instrumennya menggunakan
gamelan slendro, mirip yang digunakan dalam ludruk. Berbeda dengan gaya Kulonan
yang menggunakan gamelan slendro dan sekaligus pelog. Namun kemudian wayang
gaya Wetanan juga menggunakan gamelan pelog, terutama untuk mengiringi adegan-adegan
tertentu.
Mengikuti selera konsumen, pergelaran
wayang kulitpun akhirnya dilengkapi dengan campursari bahkan juga musik
dangdut. Malah sudah sejak lama wayang Wetanan disertai pembuka tarian Remo
segala, dimana pengunjung diminta memberikan saweran yang dulu diselipkan ke
dada.
Keberadaan wayang kulit
di Sidoarjo semakin menurun karena tidak ada kaderisasi. Hanya ada satu dalang
cilik, anak Subiyantoro yang juga dalang. Juga tidak ada lembaga formal atau
nonformal yang mengajarkan wayang gaya Wetanan secara utuh, bukan hanya
disentuh saja. Belum lagi keterbatasan naskah yang siap dipentaskan.
b. Reog
Cemandi
Reog
Cemandi adalah kesenian asli Sidoarjo. Kesenian itu muncul pada tahun 1926.
Reog Cemandi berbeda dengan Reog Ponorogo.
Yang membedakan adalah tidak adanya warok, dan topengnya tidak dihiasi dengan
bulu merak seperti ciri khas reog Ponorogo. Irama musik yang digunakan adalah
angklung dan kendang kecil. Jumlah
pemain Reog Cemandi sekitar 13 orang. Dua penari yang memakai topeng Barongan
Lanang (laki-laki) dan Barongan Wadon (perempuan), enam penabuh gendang
dan empat pemain angklung.
Saat memainkan tarian itu, dua penari
Barongan Lanang dan Barongan Wadon mengiringi penabuh gendang yang ada di
tengahnya. Enam penabuh gendang itu membentuk formasi
melingkar sambil mengikuti irama.
Dulunya, reog Cemandi adalah pertunjukan
yang dipakai masyarakat desa Cemandi, kecamatan Sedati untuk mengusir
penjajah Belanda. Waktu itu, salah satu kyai dari Pondok Sidoresmo
Surabaya, menyuruh masyarakat setempat untuk membuat topeng dari kayu
pohon randu. Topeng itu dibentuk menyerupai wajah buto cakil dengan
dua taring. Setelah itu, masyarakat setempat melakukan tari-tarian untuk
mengusir penjajah yang akan memasuki desa Cemandi. Selain untuk mengusir penjajah pada
waktu itu, tarian tersebut juga sebagai himbuan kepada masyarakat sekitar untuk
selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Anjuran itu tersirat dalam sair
pangelingan (pengingat) yang dilantunkan
pemainnya sebelum memulai pertunjukan. “Lakune wong urip eling gusti ning
tansah ibadah ing tengah ratri,” ucap Arif Juanda menirukan sair itu. Kini, pertunjukan reog Cemandi itu
sudah berubah fungsi. Masyarakat sekitar biasa mengundang kesenian Reog Cemandi
itu untuk hajatan mantenan, sunatan atau acara lainnya. Selain itu, masyarakat
sekitar percaya, bahwa tarian reog Cemandi bisa untuk menolak balak (membuang
sial). “Kalau arak-arakan pasti kami yang di depan. Karena untuk menolak
balak,” tegasnya lagi.
c. Wayang
Potehi
Kesenian adalah kesenian khas China,
keberadaannya melekat dengan klenteng atau rumah ibadah Tionghoa. Di Sidoarjo
ada di klenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah, di kawasan Pasar Ikan.
Di Sidoarjo, wayang potehi hanya digelar saat perayaan
hari jadi Makco Thian Siang Seng Bo di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang
Tuah Sidoarjo. Acara tahunan ini juga diisi dengan hiburan rakyat untuk warga
sekitar kelenteng. Untuk memeriahkan HUT Makco, Subur biasanya menggelar
pertunjukkan wayang potehi selama satu bulan penuh di kompleks kelenteng.
Wayang potehi di Sidoarjo merupakan bagian dari ritual umat Tridharma ketimbang
hiburan biasa. Karena itu, jarang sekali orang luar yang menikmati kesenian
langka ini. Padahal, unsur hiburan dan intrik di wayang potehi justru lebih
banyak daripada wayang kulit.
d. Jaran
Kepang
Kelompok seni tradisi
jaranan hampir punah di Kabupaten Sidoarjo, tak sampai hitungan jari sebelah
tangan. Sebelum 1980-an, cukup banyak grup jaranan yang menggelar atraksi
hiburan di kampung-kampung. Kelompok-kelompok seni Jaranan atau Jaran Kepang
yang selama ini ada di Sidoarjo bisa dikatakan bukan asli atau berdomisili di
Sidoarjo. Mereka berasal dari luar kota, seperti Tulungagung, yang sengaja
ngamen di Sidoarjo dalam waktu beberapa lama. Diperkirakan ada sekitar 10 grup.
Namun ada satu grup Jaran Kepang versi Sidoarjo, yang agak berbeda dengan Jaran
Kepang pada umumnya. Yakni, ketika dalam masa trance, pemainnya memanjat pohon
kelapa dengan kepala menghadap ke bawah. Grup ini hanya ada di desa
Segorobancang, kec. Tarik.
e. Tari
Ujung
Di daerah lain disebut
Seni Tiban. Pertunjukan ini berupa tari dan dimaksudkan untuk meminta hujan.
Pertunjukan dua lelaki atau dua kelompok lelaki bertelanjang dada, saling mencambuk
dengan rotan secara bergantian. Dapat digolongkan seni pertunjukan karena
memang ditampilkan sebagai tontonan. Kadang dimainkan di atas panggung namun
masih ada juga yang menggunakan lapangan terbuka. Di berbagai daerah, Ujung
merupakan ritual untuk mendatangkan hujan, namun Ujung Sidoarjo memiliki latar
belakang sejarah sebagai peninggalan masa kerajaan Majapahit, dimana penduduk
disiapkan melatih kanuragan melawan musuh. Kelompok Seni Ujung terdapat di
kecamatan Tarik.
4. Cagar
budaya
a. Candi Pari
Candi Pari terletak di kecamatan Porong,
Sidoarjo. Candi Pari merupakan candi peninggalan kerajaan Majapajit. Candi Pari
didirikan sekitar tahun1293 saka (1371 masehi). Candi ini didirikan pada masa
pemerintahan Raja Hayamwuruk. Candi ini memiliki ciri- ciri yang berbeda dari
candi byang ada di Jawa Timur lainnya. Candi ini cenderung terpengaruh dengan
kesenian Champa (salah satu nama wilayah di Vietnam) jika dilihat daribentuknya
yang agak tambun dan tampak kokoh seperti candi-candi di Jawa Tengah.
Candi Pari berdiri diatas bidang tanah ukuran
13,55 * 13,40 meter, dengan ketinggian 13,80 meter. Bangunan Candi Pari
didominasi oleh bata merah pada bagian badannya, sedangkan ambang atas dan
bawah pintu masuk bilik candi menggunakan batu andesit. Bagian kaki candi
memiliki ukuran 13,55 * 13,40 meter dn tinggi 1,50 meter, pada bagian ini
terdapat dua buah jalan masuk ke bilik candi dalam bentuk susunan/trap anak
tangga dengan arah utara-selatan dan selatan-utara, jalan masuk seperti
ini tidak ditemui dalam candi-candi lain dijawa timur. Pada bagian dalam bilik
candi saat ini tidak ditemukan arca sama sekali, akan tetapi dibagian tengah
dari sisi dinding timur ( diantara lubang angin ) terdapat sebuah tonjolan
sebagai sandaran dinding arca. Dulu daerah sekitar candi pernah ditemukan dua
arca Siwa Mahadewa, dua arca Agastya, tujuh arca Ganesha dan tiga arca Budha
yang semuanya telah disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Candi Pari tidak memiliki ornamen. Pada kaki candi
terdapat hiasan berbentuk panel yang polos tanpa hiasan. Sedangkan dibagain
tubuh candi terdapat pahatan semacam panel-panel besar polos tanpa hiasan. Di
dinding barat tepat diatas pintu masuk terdapat hiasan segitiga sama sisi
dengan bagian kecilnya berada di atas. Pada bagian tengah dinding utara, timur
dan selatan terdapat hiasan miniatur yang atapnya bertingkat lima dengan
puncaknya berbentuk kubus, bagian atas ambang pintu dan pada masing-masing
tingkatan atap miniatur candi terdapat hiasan teratai dan dipuncaknya ada
hiasan (angka) atau Sangkha. Candi pari yang ada saat ini merupakan hasil
pemugaran tahun 1994-1999 oleh Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah
dan Purbakala Jawa Timur melalui dana Proyek Pelestarian/Pemanfaatan
Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
b. Candi
Sumur
Candi Sumur merupakan
candi yang juga masih satu lokasi dengan Candi Pari. Mungkin hanya berjarak
kurang lebih 100 meter.
Berbeda dengan Candi Pari yang berukuran lumayan besar,
Candi Sumur memiliki ukuran yang lebih kecil, mungkin hanya separuhnya dan
hanya berhasil dipugar separuhnya saja.
Semua orang yang melihat candi ini pasti akan heran.
Karena sisi yang tegak hanya separuhnya saja dan ini akan membuat Candi Sumur
rawan untuk runtuh. Tetapi sekarang dibangun kerangka dari semen yang
berfungsi sebagai penopang dan pengikat susunan badan candi yang masih ada.
Candi Sumur ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan
Candi Pari, dan seperti halnya Candi Pari, Candi Sumur juga terbentuk dari
susunan batu bata merah bukan dari batu andesit yang umumnya kita jumpai pada
candi-candi lain. Pada bangunan candi ini juga tidak ditemukan ukiran atau
relief-relief yang mendhias dinding atau kaki candi. Bentuk unik hanya terlihat
dari susunan anak tangga yang berada di sisi selatan candi. Anak tangga ini
cukup "curam" dan tidak memiliki dinding tangga di bagian sisinya,
sehingga perlu perhatian extra bila pengunjung ingin menaikinya dikarenakan
bata penyusun anak tangga atau tempat berpijak kaki itu sendiri tidak tersusun
rata dan rapi. Memang, meskipun Candi Sumur tampak jelas telah mengalami
renovasi, namun batu-batu penyusun candi nampak belum diatur dengan rapi dan
ditambah dengan batu-batu pengganti untuk sisi-sisi yang hilang. Bentuk candi
yang berhasil direnovasi juga belum mampu memberikan gambaran secara lebih
jelas dan pasti akan lekuk-lekuk badan dan sudut-sudut candi.
c. Candi Dermo
Candi Dermo terletak di Dusun Dermo Desa Candi Negoro
Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. Candi Dermo berukuran tinggi 13,5
meter, panjang 6 meter dan lebar 6 meter.
Saat ini, Candi Dermo sedang dalam perencanaan akan di
renovasi. Sebenarnya candi ini sudah pernah direnovasi pada jaman penjajahan
belanda, namun renovasi yang dilakukan nampaknya merubah wajah candi, karena
lebih bersifat mempertahankan candi dari keruntuhan daripada upaya menyusun
ulang badan candi.
Bagian dalam candi sangat sempit. Ini karena pada masa
pemerintahan Belanda dilakukan pemugaran dan pemugaran ini menambah bagian
dalam sedemikian rupa sehingga bisa menyokong bangunan dari kemungkinan runtuh.
Tetapi ada perbedaan antara batu asli candi dengan batu hasil pemugaran
Belanda. Batu bata hasil pemugaran semasa penjajahan Belanda mempunyai ukuran
yang lebih kecil dan tipis dibandingkan batu bata asli penyusun candi.
Pada kompleks candi Dermo, terdapat 4 buah Arca dengan 2
macam jenis, yakni Arca Manusia Bersayap dan Arca Kolo. Namun sayangnya,
sekarang salah satu dari arca-arca tersebut ada yang sudah hancur, sehingga
kini Candi Dermo hanya memiliki 3 Arca saja. Yang disayangkan juga adalah
bentuk apa yang hendak ditampilkan pada kedua patung tersebut sudah susah untuk
dikenali lagi karena arca sudah rusak.
Candi Dermo dibangun pada Masa kerajaan Majapahit, pada
wangsa Raja Hayam Wuruk. Candi bercorak hindu ini berdiri pada tahun 1353
dibawah pimpinan Adipati Terung yang sekarang makamnya terdapat di Utara Masjid
Trowulan.
Candi ini termasuk salah satu kompleks candi yang
dibangun oleh Kerajaan Majapahit sebagai bukti akan luasnya daerah kekuasaan
yang dimiliki. Candi ini sebenarnya merupakan Gapura atau Pintu
Gerbang, orang Jawa mengatakan Gapura Ke Bangunan Suci. Arti
dari Bangunan suci sendiri adalah bangunan induk yang biasanya terletak di
sebelah timur candi. Begitupula dengan Candi Dermo, sebenarnya dahulu di sebelah
timur Candi ada bangunan induk yang ukurannya lebih besar, namun sekarang
bangunan induk tersebut sudah pupus dimakan waktu dan akhirnya roboh. Oleh
masyarakat jaman dulu, lahan puing-puing bangunan induk tersebut dijadikan
pemukiman oleh warga sekitar.
d. Candi Pamotan
Candi
Pamotan terletak di desa Pamotan kecamatan Porong. Atap candi ini sudak hilang
dan candi ini lebih menjorok ke dalam maka dari itu apabila musim hujan tiba,
candi ini kerap digenangi air.
Lebar Candi Pamotan hanya sekitar satu
meter saja. Candinya
sendiri hanya berupa tumpukan bata merah karena atap dan badan candi sudah
runtuh.
Meskipun berada di daerah kekuasaan
kerajaan Majapahit, candi ini belum bisa dikatakan sebagai situs peninggalan
kerajaan Majapahit.
e. Candi Medalem
Candi
ini sangat berbeda dengan candi- candi lainnya yang ada di Sidoarjo. Candi
Medalem hanya berupa tumpukan batu bata merah yang disusun memanjang entah
berapa meter panjangnya.
Candi yang ditemukan tahun 1992 oleh Pak Tamaji ini
diperkirakan sebagai tempat pembakaran atau mungkin fondasi candi. Tidak
ada berita jelas mengenai situs bersejarah ini. Karena papan penunjuk sejarah
tidak ada. Bahkan papan larangan untuk tidak merusak situs sudah rusak dan
berkarat.
Nasib candi ini sangat tragis. Bahkan bata-bata
yang memanjang itu sudah tinggal sedikit karena sisanya terkubur di bawah
pohon-pohon pisang dan rumah penduduk.
Tidak ada pengunjung ke situs ini, hanya orang yang ingin
mengambil air yang dianggap ajaib dari sumur dekat candi ini saja yang mau
menghampiri situs ini.
KESIMPULAN
Sebelum nama sidoarjo yg dipilih sebagai nama kota, dahulu
bernama sidokare. Saat itu sidokare merupakan bagian dari daerah kabupaten
surabaya, baru pada tanggal 31 januari 1859 Hindia Belanda memutuskan Kabupaten
Surabaya dipecah menjadi 2, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.
pada tanggal 28 mei 1859 nama Kabupaten Sidokare diganti dengan Kabupaten
Sidoarjo. 15 Agustus 1945 jepang menyerah kepada sekutu, pada saat itulah
pemerintah memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Sidoarjo ke Porong. tetapi
tanggal 24 Desember 1946 Belanda menyerang kembali kota Sidoarjo, dan
pemerintah memutuskan untuk memindahkan Kabupaten Sidoarjo ke daerah Jombang.
Jawa Timur pun membentuk sebuah daerah Delta Brantas, dan pada tanggal 27
Desember 1949 Belanda menyerahkan kembali pemerintahan kepada pemerintah
Republik Indonesia. sejak saat itulah kota Sidoarjo hidup tentram dan damai,
dan negara Indonesia pun bebas dari penjajahan.
SARAN
Demikian makalah yg saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Apabila ada saran dan kritik yg ingin disampaikan, silahkan sampaikan
kepada saya. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat memaafkan dan
memakluminya, karena saya adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf,
Alfa dan lupa.
SUMBER


